Ku Tak Mengerti Cinta

Cinta
Apakah itu cinta?
Sepatah kata yang memiliki berjuta makna
Sebuah perasaan yang setiap insan di muka bumi pernah rasakan

Aku tak tahu apa itu cinta
Tapi ketika aku melihatnya, ada getaran hebat yang mengguncang kesadaranku
Darah terasa berdesir mengalir ke seluruh tubuhku
Aku merasa lebih hidup
Aku merasa ada berjuta alasan untuk tetap berjuang dalam hidup

Aku tak tahu apa itu cinta
Tapi ketika ia tersenyum
Kegelapan jiwa dan semesta tak lagi ada apa-apanya dibandingkan kecerahan yang terpancar dari ujung-ujung bibirnya
Bahkan sinar surya pun kalah indahnya dibandingkan sinar wajahnya
Hangtanya mentari tak sekuat kehangatan yang aku rasakan karena senyumnya

Aku tak tahu apa itu cinta
Tapi ketika ia berkata
Kata itu bagaikan hukum yang harus aku lakukan
Ketika waktu telah berlalu dan mengaburkan ingatan, suaranya tetap tak pernah lekang
Ketika dia berkata
Suara itulah yang mengalun indah dalam hatiku
Suara itulah kekuatanku
Ketika dia berkata
Aku tak sanggup lagi menahan perasaanku dan berkata
Aku sungguh mencintaimu

Tapi apalah itu arti cinta?
Buatku cinta hanyalah sekedar simbol dan kata tiada makna
Yang bermakna adalah perasaan dan kenangan di baliknya

Biarlah perasaan ini tetap berlayar dan menemukan tempatnya untuk berlabuh

[REVIEW] CINEUS – Ketika Persahabatan dan Cinta Mengantarkan Pada Mimpi

cineus

Judul: CineUs
Penulis: Evi Sri Rezeki
Penerbit: Noura Books, 2013
Jumlah Halaman: 304
Ukuran: 13x19cm
ISBN: 978-602-7816-56-5
Harga Jual: Rp. 48.500,00

Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan!

Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi lebih seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu, lho… tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah, siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival.

Demikianlah sinopsis singkat dari novel CineUs yang ditulis oleh Mbak Evi Sri Rezeki di bagian belakang buku ini. Sekilas saja, novel ini sudah menarik perhatian dengan mengangkat tema yang jarang dijamah oleh penulis dalam negeri. Maklum, jumlah novel yang berkisah tentang kompetisi film masih bisa dihitung jari. Akan tetapi, justru di sinilah modal utama yang dengan pintar dipilih oleh Mbak Evi karena selain tema ini masih jarang diangkat, banyak sekali remaja-remaja di Indonesia yang biasanya gemar membaca novel juga punya hobi menonton film. Hmm, kombinasi pas!

Secara fisik, penampilan novel ini jika dilihat dari sampul sudah cukup menarik. Saya sudah punya gambaran tentang kisah persahabatan dengan hanya melihat sampulnya. Eits, tapi kata pepatah “jangan melihat buku dari sampulnya”. Menurut saya itu benar, tapi desain sampul juga merupakan faktor penting yang bisa menarik minat pembaca. Jadi menurut saya Mas Fahmi Ilmansyah selaku perancang sampul sudah bekerja dengan wow. Saya juga sangat suka penggambaran ilustrasi yang disisipkan di semak-semak, eh maksudnya, di antara chapter karena selain ilustrasinya bagus, gambar-gambar ini cukup membantu pembaca membangun imajinasinya sesuai dengan penggambaran yang dituliskan oleh Mbak Evi (wah saya sok kenal sekali sama penulisnya hehe, maaf ya Mbak>_<).

Di dalam novel ini, ada beberapa karakter kunci yang sering muncul seperti:

  1. Dania, ketua klub film di mana Lena bergabung di dalamnya, dan juga sahabat terdekat Lena.
  2. Dion, cowok tambun dan mengidap penyakit mental ADHD, pengambil gambar di klub film yang juga merupakan sahabat Lena.
  3. Rizki, cowok hantu misterius yang ternyata adalah pemilik web series terkenal kesukaan Lena.
  4. Ryan, sahabat Rizki yang selalu setia menemani Rizki membuat web series  dan berkontribusi dalam menciptakan efek suara.
  5. Tokoh-tokoh lain yang cukup membuat konflik di novel ini seperti dibumbui dengan dramatis, sebut saja Romi, Adit, Renata, dan Pak Kandar (haha sebenernya saya lumayan demen sama bapak yang terakhir saya sebutkan ^_~)

Tapi apalah suatu cerita kalau tidak ada tokoh utama yang memang berkarakter unik yang pantas dikisahkan dari awal buku hingga akhir? Di sinilah Lelatu Namira atau yang akrabnya dipanggil Lena yang sudah saya sebutkan tadi bisa mencuri perhatian. Dia adalah tipe cewe pemimpi dan berimajinasi tinggi. Dia sering membayangkan kejadian-kejadian fantasi dan beberapa kali dia seakan sedang asik di dunianya sendiri. Eits, maksudnya bukan cewek autis ya (saya membela diri saya sendiri juga hehe).  Contohnya saja dalam potongan yang saya ambil dari halaman 71 ini:

Kami tiba di lorong yang bercabang, Rizki mengambil jalan ke kanan. Tak jauh dari cabang, terdapa tangga pendek dari besi mengarah ke atas. Rizki merangkak naik. Aku memperhatikan jalan sebelah kiri. Bertanya-tanya, di situkah tempat tinggal monster laba-laba? Aku kecewa karena kami melewatkan begitu saja kesempatan baku hantam dengan monster laba-laba.

Penggambaran karakter Lena ini sangat jelas seakan-akan mbak Evi sebenernya sedang menceritakan dirinya sendiri dengan mimpi-mimpi pribadi Mbak untuk menjadi seorang sineas. Jujur saja, saya justru membayangkan mbak Evi alih-alih Lena dalam novel ini… hehe

Tapi yang menurut saya paling menarik di antara semua tokoh adalah Rizki si Anak Hantu. Saya mbatin, “lo kok cowok impian saya bisa di sini? >_<“. Yah mungkin dengan bisa merelasikan cerita dengan pengalaman pribadi malah bikin novel lebih seru buat dibaca. Di sini diceritakan kalau Rizki sebenarnya adalah cowok keren dan jenius yang web series-nya sudah ditonton oleh ribuan orang tetapi lebih suka menyembunyikan identitasnya. Dia tidak suka populeritas dan tidak suka “attention”. Bahkan Lena baru tahu kalau Rizki adalah anak tunggal seorang pengusaha terbesar di daerahnya, itu pun bukan dari Rizki sendiri.  Tapi justru karena itulah Rizki menjadi sangat menarik. Dia ini juga punya imajinasi tingkat dewa sama kayak Lena. Jadi mereka nyambung gitu… Kayaknya seru ya ketemu temen seminat dan segila kita? Seperti yang dikutip di halaman 78, “Barangkali kami memang alien yang berusaha bersahabat dengan manusia. Sementara, manusia menjadikan kami musuh karena tidak mengerti bahasa alien.” Tapi walau dari luar dia terkesan tidak dewasa dan terlalu imajinatif, sebenarnya dia adalah ‘cowok karbitan’ seperti yang disebut oleh Apeng, kawan lama Rizki. Maksudnya? Dia itu sebenernya berpemikiran dewasa dan bijaksana. Ada beberapa kejadian ketika Lena bereaksi tanpa berpikir panjang, Rizkilah yang menghentikannya. Juga ada banyak kata-kata Rizki yang pantas dikutip, seperti:

Dengar, Lena, kemenangan lahir dari proses, dari perjuangan! Kamu tahu, sebanyak apa pun kamu mencari pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan pernah bisa memuaskan dirimu sendiri! Karena kepuasanmu bukan berasal dari hatimu sendiri!”

Sebenarnya saya masih pengen mengulas lebih jauh mengenai karakter Lena, Rizki dan teman-teman lain tapi kayaknya nanti jadi tambah panjang T_T. Move on ke plot, yuk.

Nah di sini sebenarnya plot-plot mengenai seseorang yang bermimpi meraih sesuatu, serangkaian event yang terjadi selama tokoh utama berusaha mencapai cita-citanya, dan berakhir dengan indah sudah banyak dijumpai. Tapi yang membuat seru dari novel ini adalah adanya twist di banyak bagian. Saya nggak akan bocorin gimana serunya plot di novel ini, tapi yang jelas plot yang disuguhkan di novel ini adalah salah satu point yang paling menarik dan kuat sehingga kita selalu dibuat penasaran untuk membaca hingga bagian akhir. Hanya saja, di bagian awal plot memang terasa kurang dinamis dan berjalan lambat. Mungkin memang disengaja gitu, kan memang baru awal-awal ketika kita baru saja dikenalkan dengan konflik.

Salah satu yang paling saya sukai dari novel ini adalah porsi berimbang antara kisah cinta, persahabatan, dan pertumbuhan pribadi yang diramu dengan baik. Tiga aspek ini disajikan tanpa menjadi berat sebelah. Saya sangat senang karena saya bisa membayangkan sekaligus mengalami sendiri (di dunia khayalan mungkin ya) kisah-kisah mereka. Artinya, gaya tulis mbak Evi bagus tanpa adanya penitikberatan pada deskripsi tapi saya masih bisa masuk ke dunia Lena dengan mudah.

Plot favorit saya adalah pertemuan pertama Lena dan Rizki. Di sini diceritakan kalau Lena bertemu Rizki di bawah pohon angker sekolah malam-malam. Saya nggak tahu ya apa saya mesti ketawa, tegang, atau ikut-ikutan deg-degan… Yang jelas unsur komedi-romantis novel ini memang benar. Dari bagian ini, saya benar-benar salut sama gaya tulis mbak Evi. Saya sampai berpikir jangan-jangan saya salah beli buku horor hahaha. Tapi memang pemilihan adegan ini bisa menggambarkan karakter misterius Rizki yang menurut saya malah cukup kocak.

Banyak sekali kelebihan buku ini, tapi tentu saja buku ini masih tidak luput dari kekurangan.  Pertama, walau karakter-karakter protagonis sudah sangat menarik dan unik, sayangnya tokoh anatagonisnya sangat stereotypical. Sebut saja, Adit adalah cowok keren dan rupawan dari keluarga pejabat yang kasar dan ambisius. Romi juga adalah cowok tidak berperasaan dan pengecut. Sementara Renata, seperti halnya ketua geng kinka sekolah-sekolah lainnya, adalah cewek populer ber-make-up ‘maksimum’ dan manja. Jadi mungkin dengan karakter-karakter semacam ini, pusat konfliknya akan dengan cukup mudah tertebak. Saya juga merasa kalau konfrontasi Adit dan Lena diceritakan lebih banyak, alih-alih antara Romi dan Lena, mungkin cerita ini akan menjadi lebih greget.

Yang kedua adalah, saya menemukan ketidakkonsistenan gaya tulis. Secara umum saya sangat suka gaya tulis mbak Evi yang ringan dan kocak. Tapi pada bagian tertentu –seperti di halaman 260-263–, saya seperti membaca rima-rima puisi atau penggalan diary ketika Lena ‘curhat’ tentang perasaannya. Bukan berarti saya tidak suka gaya tulis berat seperti itu, hanya saja mungkin gaya puitis ini sedikit keluar konteks dan mengurangi feel keseluruhan novel yang sebenarnya seru. (saya sebenernya seneng lo sama kata-katanya mbak Evi).

Dan yang terakhir, plot-plotnya ada banyak yang menggantung. Misalnya, saya enggak tau akhir kisah cinta Rizki dan Lena, apakah mereka pacaran atau hanya berteman. Bagaimana kelanjutan kisah Dania dan Dion? Dion masih belum mengetahui perasaan Dania padanya. Sementara itu, tidak ada kelanjutan kisah Ryan, padahal menurut saya dia juga tokoh penting dan menarik. Yang paling mengganggu adalah kisah dramatis hidup Dion. Awalnya saya pikir mbak Evi mungkin ingin menyelipkan kisah tersendiri untuk Dion dengan menceritakan masalah perselingkuhan orang tuanya dan ketika Dion tiba-tiba menghilang tanpa kabar, bukan hanya sekedar basa-basi pengalih perhatian Lena setelah ditinggalkan Rizki di malam puncak kompetisi, tetapi hingga akhir saya tidak mendapat kelanjutan kisahnya. Dan saya masih penasaran akan ancaman terakhir Adit kepada Lena dan teman-temannya. Selain itu, saya sedikit kecewa karena masih tidak ada seorang pun dari mereka kecuali Lena dan teman lama Rizki yang mengetahui bahwa Rizki dan Ryanlah yang berada di balik Web Series Series of Stars karena menurut saya Rizki dan Ryan pantas mendapatkan apresiasi untuk itu. Satu hal lagi, saya sebenarnya penasaran apakah Rizki itu sudah menyukai Lena bahkan sebelum mereka bertemu karena beberapa kali Rizki mengetahui apa yand dilakukan oleh Lena dan tak seorang pun yang lain tau. Seakan-akan dia sudah menaruh perhatian khusus kepada Lena bahkan sebelum Lena menyadarinya. Dari banyaknya pertanyaan yang masih belum terjawab, terbersit dalam pikiran saya bahwa mungkin Mbak Evi akan manjawabnya di serial berikutnya. Tapi Cine Us itu buku pertama serial club sekolah Mbak Evi kan ya?

Oke demikianlah review panjang saya mengenai novel CineUs. Terlepas dari kekurangan-kekurangan buku ini, buku ini sangat layak untuk dibaca dan dimiliki. Saya juga merasa mungkin serial berikutnya juga layak untuk ditunggu ^_~

Trailer untuk novel ini bisa ditonton di sini:

Rating: 4/5

Review ini ditulis untuk mengikuti lomba review bersama Noura Books dan Smartfren.

noura books

smartfren

Let your mind wander in the Claire de Lune's wonderful underworld